Kamis, 26 Desember 2013

DAMAI ITU INDAH, KASIH ITU SUKACITA

DAMAI ITU INDAH, KASIH ITU SUKACITA
Perhatikan kebaikan dalam diri setiap orang kasihilah kebaikan dalam diri mereka perhatikanlah ketidaklayakanmu dibandingkan dengan kelayakan mereka, kasih dan suka cita menjadikan dunia kecilmu berbahagia seperti riak-riak air kolam yang timbul karena adanya batu yang dijatuhkan ke dalamnya dan membuat permukaan airnya bergoyang, demikian pula dengan suka citamu yang akan menyebar di lingkaran yang kian lama kian melebar melampaui segala pengetahuan dan antisipasi jika kamu selalu bersuka cita bersama Allah karena suka cita yang demikian bersifat kekal.
Carilah keindahan dan suka cita di dunia ini pandanglah bunga hingga keindahannya menjadi bagian dalam jiwamu maka kamu akan mengembalikan keindahan itu kepada dunia dalam bentuk sebuah senyuman atau sepatah kata penuh kasih atau sebuah pemikiran yang bijak atau sebuah doa bagikanlah kasih dengan lebih mendalam maka kedamaian akan tercipta.
Mengasihi sesama satu sama lain berarti menyertakan Allah dalam hidupnya, menyertakan Allah dalam hidupnya berarti mewujudkan keharmonisan, keindahan, sukacita kebahagiaan dan kedamaian untuk dirinya dan sesama.
Suka cita merupakan sikap “terima kasih” yang seutuhnya terhadap Allah karena dalam masa sulit dapat  merasakan kedamaian.
Raihlah kedamaian dan suka cita dimulai dari diri sendiri dahulu demi mendapatkan Kasih Sejati Allah, ciptakan rasa bahagia mengiringi setiap langkah meniti hari demi hari menuju hari kemenangan. Jangan mengeluh atau berputus asa ketika ujian dan cobaan itu datang tetapi sikapi  ujian dan cobaan datang sebagai wujud kasih Allah menyertai agar manusia selalu mengingat-Nya berlapang hati dan bersikap rendah hati itu yang diinginkan Allah bagi mereka yang menerima ujian dan cobaan  seberat apapun bebannya jika diterima dengan hati lapang dan sikap rendah hati maka Allah akan memberikan rasa ringan dan damai dalam melalui masa sulitnya.
BERSUKA CITALAH KETIKA BERSAMA ALLAH
BERDAMAILAH DENGAN DIRIMU
KASIHI SESAMAMU SEPERTI ENGKAU MENGASIHI DIRIMU SENDIRI
JAMAHLAH HATIMU SEBELUM MENJAMAH HATI SESAMAMU
TERSENYUMLAH UNTUK DIRIMU SEBELUM UNTUK SESAMAMU
SIBAKKAN TIRAI PESONAMU UNTUK MENEBAR KASIH
ULURKAN TANGANMU UNTUK MENUAI BERKAT
LANGKAHKAN KAKIMU UNTUK MENAPAKI PIJAKAN SUCI
LAPANGKAN HATIMU UNTUK YESUS YANG LAHIR DI HATI KITA

Selasa, 24 Desember 2013

PESAN NATAL BERSAMA PGI DAN KWI TAHUN 2013



“Datanglah, ya Raja Damai” (Bdk. Yes. 9:5)
.
Saudara-saudari terkasih, segenap umat Kristiani Indonesia,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus
Kita kembali merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat di dunia. Perayaan kedatangan-Nya selalu menghadirkan kehangatan dan pengharapan Natal bagi segenap umat manusia, khususnya bagi umat Kristiani di Indonesia. Dalam peringatan ini kita menghayati kembali peristiwa kelahiran Yesus Kristus yang diwartakan oleh para Malaikat dengan gegap gempita kepada para gembala di padang Efrata, komunitas sederhana dan terpinggirkan pada jamannya (bdk. Luk. 2:8-12). Selayaknya, penyampaian kabar gembira itu tetap menggema dalam kehidupan kita sampai saat ini, dalam keadaan apapun dan dalam situasi bagaimanapun.
Tema Natal bersama PGI dan KWI kali ini diilhami suatu ayat dalam Kitab Nabi Yesaya 9:5 “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita; seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang; Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.
Kekuatan pesan sang nabi tentang kedatangan Mesias dibuktikan dari empat gelar yang dijabarkan dalam nubuat tersebut, yaitu: 1). Mesias disebut “Penasihat Ajaib”, karena Dia sendiri akan menjadi keajaiban adikodrati yang membawakan hikmat sempurna dan karenanya, menyingkapkan rencana keselamatan yang sempurna. 2). Dia digelari “Allah yang Perkasa”, karena dalam Diri-Nya seluruh kepenuhan keallahan akan berdiam secara jasmaniah (bdk. Kol. 2:9, bdk. Yoh. 1:1.14). 3). Disebut “Bapa yang Kekal” karena Mesias datang bukan hanya memperkenalkan Bapa Sorgawi, tetapi Ia sendiri akan bertindak terhadap umat-Nya secara kekal bagaikan seorang Bapa yang penuh dengan belas kasihan, melindungi dan memenuhi kebutuhan anak-anak-Nya (Bdk. Mzm. 103:3). 4). Raja Damai, karena pemerintahan-Nya akan membawa damai dengan bagi umat manusia melalui pembebasan dari dosa dan kematian (bdk. Rm. 5:1; 8:2).
Seiring dengan semangat dan tema Natal tahun ini, kita menyadari bahwa Natal kali ini tetap masih kita rayakan dalam suasana keprihatinan untuk beberapa situasi dan kondisi bangsa kita. Kita bersyukur bahwa Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama. Namun, dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara, kita masih merasakan adanya tindakan-tindakan intoleran yang mengancam kerukunan, dengan dihembuskannya isu mayoritas dan minoritas di tengah-tengah masyarakat oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan kekuasaan. Tindakan intoleran ini secara sistematis hadir dalam berbagai bentuknya.
Selain itu, di depan mata kita juga tampak perusakan alam melalui cara-cara hidup keseharian yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan seperti kurang peduli terhadap sampah, polusi, dan lingkungan hijau, maupun dalam bentuk eksploitasi besar-besaran terhadap alam melalui proyek-proyek yang merusak lingkungan.
Hal yang juga masih terus mencemaskan kita adalah kejahatan korupsi yang semakin menggurita. Usaha pemberantasan sudah dilakukan dengan tegas dan tidak pandang bulu, tetapi tindakan korupsi yang meliputi perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar masih terus terjadi.
Hal lain yang juga memprihatinkan adalah lemahnya integritas para pemimpin bangsa. Bahkan dapat dikatakan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot. Disiplin, kinerja, komitmen dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Namun demikian, kita bersyukur karena Tuhan masih menghadirkan beberapa figur pemimpin yang patut dijadikan teladan. Kenyataan ini memberi secercah kesegaran di tengah dahaga dan kecewa rakyat atas realitas kepemimpinan yang ada di depan mata. 3. Karena itu, Gema tema Natal 2013 “Datanglah, Ya raja Damai” menjadi sangat relevan. Nubuat Nabi Yesaya sungguh memiliki kekuatan dalam ungkapannya. Seruan ini  mengungkapkan sebuah doa permohonan dan sekaligus harapan akan datangnya sang pembawa damai dan penegak keadilan (bdk. “Penasihat Ajaib”).
Doa ini dikumandangkan berangkat dari kesadaran bahwa dalam  situasi apapun, pada akhirnya  “Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal,” Dialah yang memiliki otoritas atas dunia ciptaan-Nya.  Dengan demikian, semangat Natal adalah semangat merefleksikan kembali arti Kristus yang sudah lahir bagi kita, yang telah menyatakan karya keadilan dan perdamaian dunia, dan karenanya pada saat yang sama, umat berkomitmen untuk mewujudkan kembali karya itu, yaitu karya perdamaian di tengah konteks kita. Tema ini sekaligus mengacu pada pengharapan akan kehidupan kekal melalui kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Hakim yang Adil. Semangat tema ini sejalan dengan tekad Gereja-gereja sedunia yang ingin menegakkan keadilan, sebab kedamaian sejati tidak akan menjadi nyata tanpa penegakan keadilan.
Karena itu, dalam pesan Natal bersama kami tahun ini, kami hendak menggarisbawahi semangat Kedatangan Kristus tersebut dengan sekali lagi mendorong Gereja-gereja dan seluruh umat Kristiani di Indonesia untuk tidak jemu-jemu menjadi agen-agen pembawa damai di mana pun berada dan berkarya. Hal itu dapat kita wujudkan antara lain dengan:
a)  Terus mendukung upaya-upaya penegakkan keadilan, baik di lingkungan kita maupun dalam lingkup yang lebih luas. Hendaklah kita menjadi pribadi-pribadi yang adil dan bertanggung jawab, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, gereja, masyarakat dan di mana pun Allah mempercayakan diri kita berkarya. Penegakkan keadilan, niscaya diikuti oleh sikap hidup yang berintegritas, disiplin, jujur dan cinta damai.
b)   Terus memberi perhatian serius terhadap upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian dan pemulihan lingkungan. Mulailah dari sikap diri yang peduli terhadap kebersihan dan keindahan alam di sekitar kita, penghematan pemakaian sumber daya yang tidak terbarukan, serta bersikap kritis terhadap berbagai bentuk kegiatan yang bertolak belakang dengan semangat pelestarian lingkungan. Dengan demikian kita juga berperan dalam memberikan keadilan dan perdamaian terhadap lingkungan serta generasi penerus kita.
c)  Semangat cinta damai dan hidup rukun menjadi dasar yang kokoh dan modal yang sangat penting untuk menghadapi agenda besar bangsa kita, yaitu Pemilu legislatif maupun Pemilu Presiden-Wakil Presiden tahun 2014 yang akan datang.
Saudara-saudara terkasih,
Marilah kita menyambut kedatangan-Nya sambil terus mendaraskan doa Santo Fransiskus dari Asisi:
Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai, Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,
Sebab dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku diampuni
Dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
Amin
SELAMAT NATAL 2013 DAN TAHUN BARU 2014
Jakarta, 18 November 2013
Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
Pdt. Dr. A. A. Yewangoe (Ketua Umum)
Pdt. Gomar Gultom, M.Th.   (Sekretaris Umum)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA
Mgr Ignatius Suharyo   (Ketua Umum)
Mgr  J. M. Pujasumarta  (Sekretaris Jenderal)

Minggu, 22 Desember 2013

LOMBA MEWARNAI PIA SANTO MARTINUS


Era global yang didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan individu-individu yang kreatif dan produktif. Oleh karena itu, kreativitas perlu ditumbuh kambangkan khususnya pada anak-anak usia dini, karena pada usia tersebut berlangsung periode puncak perkembangan kreativitas. Pada saat inilah krastivitas secara alamiah muncul sangat tinggi, tercermin dalam perilaku anak yang selalu ingin tahu dan senang bertanya serta memiliki daya khayal yang tinggi. Secara umum sudah banyak dipahami bahwa dalam rangka mengembangkan kreativitas, peran pendidik sangatlah penting.


         Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kreativitas, baik di rumah, di gereja maupun di sekolah. Upaya tersebut mangacu pada hakekat kretivitas, peranan pendidik dalam pengembangan kreativitas, dan upaya peningkatan kreativitas anak pada usia dini. Anak yang kreatif dan cerdas tidak akan jadi dengan sendirinya, melainkan harus diarahkan. Salah satunya dengan memberi kegiatan yang dapat mengembangkan kreativitas anak, seperti yang dilakukan oleh pembina PIA di gereja Santo Martinus Weleri ini. Kegiatan lomba mewarnai untuk anak-anak PIA dipandang sangat positif untuk mengembangkan kreatifitas anak. Disadari bahwa kreativitas yang mensyaratkan kebebasan tidak akan berkembang apabila si anak tidak diberi kesempatan. Kesempatan tanpa bataspun dapat berakibat buruk dan justru tidak menunjang kreativitas, sebaliknya disiplin yang kaku tanpa toleransi akan berpotensi mematikan kreativitas. Oleh karena itu, kebebasan dan disiplin harus dimainkan secara serasi agar dapat mengembangkan potensi secara optimal.

     Untuk menjadikan bibit unggul yang berkualitas suasana kasih sayang dan stimuli mental diperlukan untuk merangsang daya kreativitas anak. Rangsangan tersebut bisa dengan seni, mengunjungi pameran, menonton pertunjukan wayang, olah raga dan lain-lain. Aktifitas berkesenian baik di ruangan kelas ataupun di luar kelas, pada dasarnya dapat merangsang perkembangan jiwa anak. Kelancaran dalam mengungkapkan perasaan dalam bentuk seni yang tidak harus mementingkan hasil sebagai tujuan, dapat mendorong fungsi-fungsi jiwa anak berkembang aktif. Fungsi jiwa anak seperti merasakan, berfantasi, berfikir, berkehendak (karsa) dan kemampuan motorik dalam merespon yang ada, akan terbina dan melatih kepekaan. Ketajaman inderawi yang diasah melalui kegiatan seni yang mengutamakan proses, pada gilirannya dapat membantu jiwa anak tanggap terhadap lingkungan sekitarnya. Sebab aspek emosional yang dominan dalam kegiatan seni akan tersalurkan secara wajar. Keragaman rangsang tersebut dapat memberi kontak langsung dengan potensi unggul yang dimiliki anak pada usia dini guna meningkatkan kecerdasan serta krativitas. Imajinasi adalah kata kunci kreativitas. Tanpa imajinasi kreativitas tidak akan berkembang. Terimakasih kepada pembina PIA yang telah memberi kesempatan anak-anak untuk berkreatifitas. Tuhan memberkati.

Sabtu, 21 Desember 2013

MINGGU ADVEN IV/A/2013

MINGGU ADVEN IV/A/2013
Yes 7:10-14  Rm 1:1-7  Mat 1:18-24
PENGANTAR
    Dalam Misa Minggu Adven IV/A hari ini,  Bacaan dari Yesaya, Paulus dan Injil Matius, ketiga-tiganya memberitahukan kepada kita halkelahiran Almasih. Masing-masing bacaan mempunyai sifat dan isinya yang khusus. Dalam khotbah-khotbah tentang  Injil Mat 1:18-24 kerapkali dikemukakan peranan dan jasa St. Yusuf  untuk keluarga kudus di Nasaret. Yaitu mulai dengan kesediaannya menerima Maria tunangannya yang mengandung sebagai isterinya. Dan juga tanggungjawabnya  mendampingi pertumbuhanYesus sejak masa kanak-kanak sampai dewasa.- Tetapi hari  ini dengan mendengarkan berita gembira tentang kelahiran Yesus Penebus kita, marilah kita juga merenungkan makna kelahiran kita masing-masing sebagai orang beriman.
HOMILI
    Teks-teks Kitab Suci, yang dihidangkan  kepada kita selama masa Adven, menggambarkan  betapa  sungguh besar kasih Allah kepada umat manusia yang diciptakan-Nya. Umat manusia, termasuk kita semua, tidak selalu menjawab kasih Allah itu dengan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya. Singkatnya manusia berdosa,  melanggar kasih Allah . Ternyata meskipun manusia tidak menjawab kasih ilahi secara positif, namun tanggapan balik Allah terhadap jawaban manusia yang negatif itu tetap positif ! Kesungguhan kasih ilahi-Nya itu dibuktikan dengan kesediaan Putera-Nya menjadi manusia! Peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem adalah suatu fakta, bahwa Allah sungguh menjadi manusia. Suatu rahasia, suatu misteri, yang takterselami namun nyata!
    Menjelang Hari Raya Natal selama masa Adven ini, ungkapan hati atau keinginan manusia sudah mulai diselenggarakan dengan pelbagai cara. Ada kelompok  keagamaan yang sudah merayakan Pesta Natal secara besar-besaran. Dan di mal-mal dan toko-toko sudah tersedia penjualan barang-barang indah, dengan hiasan-hiasan Natalan yang menarik. Sebenarnya  semuanya  itu  bukanlah  salah, bahkan  baik. Tetapi  mengingat keterbatasan pengertian tentang arti masa Adven, dan kecenderungan manusia untuk lebih suka memilih apa yang menyenangkan daripada apa yang sebenarnya  diperlukan, maka makna masa Adven yang sejati tidak atau kurang dipahami. Akibatnya perayaan Natal menjadi perayaan profan, kehilangan maknanya spiritualnya yang sejati.
    Karena ketiga Bacaan Kitab Suci hari ini menyinggung hal kelahiran Almasih kita, marilah kita mencoba memahami apa makna kelahiran Yesus itu bagi kita, yang sudah dilahirkan kembali dalam permandian atas Yesus.
     Kelahiran Yesus dalam istilah keagamaan kristiani disebut ‘Inkarnasi’, ‘Sabda menjadi daging’, atau penjelmaan Sabda menjadi manusia. Jadi kelahiran Yesus adalah suatu perwujudan perubahan total: Allah lahir menjadi manusiaDan latar belakang perubahan total itu adalah kasih. Yesus yang lahir itu sungguh manusia seutuhnya seperti kita kecuali dalam hal dosa. Dengan kelahiran-Nya  Yesus merupakan model sempurna, teladan manusia  utuh seperti dikehendaki oleh Allah sendiri. Sejak dilahirkan dan selama hidup-Nya, yang hanya berlangsung  sekitar 33 tahun, Yesus  sebagai manusia dan atas nama segenap umat manusia membalas kasih abadi Allah seutuhnya. Balasan  kasih  kepada Bapa-Nya itu  oleh Yesus sebagai manusia juga dilaksanakan dalam kasih-Nya kepada sesama manusia. Ia  berbelas kasih kepada  orang sakit, lapar, haus, kerasukan setan, bahkan membangkitkan kembali orang yang sudah mati. Karena Allah Bapa-Nya mengasihi semua orang, maka Yesus dilahirkan  menjadi  manusia untuk  mengasihi semua orang juga. Seluruh hidup dan perbuatan-Nya sejak dilahirkan sampai dengan kematian-Nya di salib Yesus berbuat baik kepada sesama-Nya. Bagi Yesus dilahirkan berarti melaksanakan tugas panggilan-Nya untuk menyelamatkan manusia yang dikasihi Allah Bapa-Nya.
    Apa makna kelahiran Yesus bagi kita?     
    Kita semua sudah dilahirkan oleh Ibunda kita masing-masing sebagai putera-puteri manusia. Tetapi sesudah dilahirkan, hidup kita belum kita hayati seperti dikehendaki  Allah sesuai dengan ajaran dan teladan Yesus. Tetapi kita juga sudah dilahirkan kembali dalam pembaptisan. Kita menjadi menjadi putera-puteri Allah seperti Yesus. Karena itu karena kelahiran baru itu kita harus hidup dan berbuat seperti Yesus, menurut ajaran dan teladan-Nya. Bila tidak demikian, kelahiran baru kita sebenarnya tidak terwujud. Kita masih tetap manusia lama!
    Karena itu marilah kita tekun berdoa, khususnya dalam masa Adven ini, mohon kepada Tuhan agar Yesus yang lahir di Betlehem, juga lahir di dalam hati kita! Kita mohon agar kelahiran Yesus di dalam hati kita, membuat kita lahir kembali menurut citra Yesus dalam hubungan kasih kita kepada Allah dan sesama.

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Selasa, 11 Maret 2008

SIMBOL-SIMBOL PASKAH


ANAK DOMBA PASKAH


Di antara simbol-simbol Paskah yang populer, anak domba adalah yang paling penting dalam perayaan agung ini. Anak Domba Paskah, yang melambangkan Kristus, dengan bendera kemenangan, dapat dilihat dalam lukisan-lukisan yang dipasang di rumah-rumah keluarga Eropa. Doa paling kuno untuk pemberkatan anak domba ditemukan dalam buku ritual abad ketujuh biara Benediktin di Bobbio, Italia. Dua ratus tahun kemudian Roma mempergunakannya dan sesudah itu, selama berabad-abad kemudian, menu utama santap malam Paus pada Hari Raya Paskah adalah anak domba panggang. Setelah abad kesepuluh, sebagai ganti anak domba utuh, disajikan potongan-potongan daging yang lebih kecil.

Tradiri kuno anak domba Paskah juga mengilhami umat Kristiani untuk menyajikan daging anak domba sebagai hidangan populer pada masa Paskah. Hingga sekarang, daging anak domba disajikan sebagai menu utama Minggu Paskah di berbagai daerah di Eropa timur. Tetapi, seringkali bentuk-bentuk anak domba kecil terbuat dari mentega, roti atau pun gula-gula menggantikan sajian daging anak domba, dan menjadi hidangan utama jamuan Paskah.

Di abad-abad yang silam, dianggap merupakan suatu tanda keberuntungan jika orang menjumpai anak domba, teristimewa pada masa Paskah. Merupakan takhayul populer bahwa iblis, yang dapat mengambil wujud segala macam binatang, tidak pernah diperkenankan menampakkan diri dalam wujud anak domba karena simbol religiusnya.


TELUR PASKAH

Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa. Bagi para leluhur kita yang belum mengenal ajaran Kristiani, sungguh merupakan peristiwa yang menakjubkan menyaksikan suatu makhluk hidup yang baru muncul dari suatu obyek yang tampaknya mati. Bagi mereka, telur merupakan simbol musim semi. Di masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat equinox musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru.

Pada masa Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu darimana Kristus keluar menyongsong hidup baru melalui Kebangkitan-Nya. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa sukacita Paskah, yaitu karena, dulu, telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Kaum beriman sejak awal telah mewarnai telur-telur Paskah dengan warna-warna cerah, meminta berkat atasnya, menyantapnya, serta memberikannya kepada teman dan sahabat sebagai hadiah Paskah.

Tradisi telur Paskah berkembang di antara bangsa-bangsa Eropa utara dan di Asia segera sesudah mereka masuk Kristen. Tetapi, di antara bangsa-bangsa Eropa selatan, dan dengan demikian juga di Amerika Selatan, tradisi telur Paskah tidak pernah menjadi populer.

Ritual Romawi mempunyai tata cara khusus untuk pemberkatan telur-telur Paskah:

“Kami mohon kepada-Mu, ya Tuhan, untuk menganugerahkan berkat-Mu atas telur-telur ini, menjadikannya makanan yang sehat bagi umat beriman, yang dengan penuh syukur menyantapnya demi menghormati Kebangkitan Tuhan kami Yesus Kristus.”

Pada abad pertengahan, menurut tradisi telur-telur dibagikan pada Hari Raya Paskah kepada semua pelayan. Terdapat catatan bahwa Raja Edward I dari Inggris (1307) memerintahkan agar 450 butir telur direbus menjelang Paskah, diberi warna atau dibungkus dengan daun keemasan, yang kemudian akan dibagi-bagikannya kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pada Hari Raya Paskah.

Telur Paskah biasanya dibagikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah bersama dengan hadiah-hadiah lain. Kebiasaan ini berakar kuat di Jerman di mana telur-telur disebut “Dingeier” (telur-telur yang “dihutang”). Anak-anak tidak berlambat dalam menuntut apa yang “dihutang” dari mereka, dan dengan demikian berkembanglah berbagai macam pantun di Perancis, Jerman, Austria dan Inggris, di mana anak-anak, bahkan hingga sekarang, menuntut telur-telur Paskah sebagai hadiah mereka. Berikut adalah salah satunya yang berasal dari Austria:

Kami menyanyi, kami menyanyi lagu Paskah:
Tuhan membuatmu sehat, kuat dan pintar.
Penyakit dan badai dan segala yang jahat
kiranya jauh dari kerabat, dan ternak dan ladang.
Sekarang, berilah kami telur,
yang hijau, yang biru dan yang merah;
jika tidak, anak-anak ayammu akan mati semuanya.

Di beberapa daerah di Irlandia, anak-anak mengumpulkan telur-telur angsa dan bebek sepanjang Pekan Suci, untuk diberikan sebagai hadiah pada Minggu Paskah. Sebelumnya, pada Minggu Palma, mereka membuat sarang-sarang kecil dari batu, dan sepanjang Pekan Suci mereka mengumpulkan sebanyak mungkin telur, menyimpannya dalam sarang-sarang batu mereka yang tersembunyi. Pada Minggu Paskah, mereka memakan semuanya, membaginya dengan anak-anak lain yang masih terlalu kecil untuk mengumpulkan telur-telur mereka sendiri.

Orang-orang dewasa juga memberikan telur-telur sebagai hadiah di Irlandia. Jumlah telur yang akan dihadiahkan ditentukan menurut peribahasa kuno di kalangan rakyat Irlandia: “Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin [pengemis].”

Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang Chaldean, Syria dan Yunani, kaum beriman saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, tetapi telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavic membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak. Di Jerman dan di beberapa negara Eropa tengah, telur-telur yang dipergunakan untuk memasak hidangan Paskah tidak dipecahkan, melainkan ditusuk dengan jarum di kedua ujungnya, lalu isinya dikeluarkan dengan meniupnya ke dalam mangkok. Kulit-kulit telur kosong diberikan kepada anak-anak untuk dipergunakan dalam berbagai macam permainan Paskah. Di beberapa daerah di Jerman, kulit-kulit telur kosong tersebut digantungkan pada semak-semak dan pohon sepanjang Pekan Paskah, mirip pohon Natal. Orang-orang Armenia menghiasi kulit telur kosong mereka dengan gambar-gambar Kristus yang Bangkit, Bunda Maria, dan gambar-gambar religius lainnya, untuk diberikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah.

Berbagai Permainan Menggunakan Telur
Masa Paskah merupakan masa bermain-main dengan telur di seluruh daratan Eropa. Lomba telur tumbuk dengan berbagai macam variasinya banyak dilakukan di Syria, Iraq, dan juga Iran. Di Norwegia, permainan itu disebut knekke (ketuk). Di Jerman, Austria dan Perancis, telur yang direbus keras digelindingkan di lapangan atau bukit dan saling diadu; telur yang tetap tak retak hingga akhir dinyatakan sebagai “telur kemenangan”. Permainan ini amat digemari di Amerika lewat pesta telur gelinding di lapangan Gedung Putih di Washington.

Tradisi umum lainnya di antara anak-anak adalah perlombaan mencari telur, baik di dalam rumah maupun di kebun pada hari Minggu Paskah. Di Perancis, anak-anak mendengarkan dongeng bahwa telur-telur Paskah dijatuhkan dari lonceng-lonceng gereja dalam perjalanan mereka kembali dari Roma. Di Jerman dan Austria, keranjang-keranjang kecil berisi telur, kue-kue serta permen diletakkan di tempat-tempat tersembunyi, dan anak-anak percaya bahwa kelinci Paskah, yang juga begitu populer di negeri ini, telah meletakkan telur-telur itu beserta permennya.

Di Rusia dan Ukrainia dan juga Polandia, orang memulai santapan Paskah mereka dengan penuh sukacita setelah masa puasa Prapaskah yang panjang dengan sebutir telur yang telah diberkati pada hari Minggu Paskah. Sebelum duduk makan, sang bapak akan dengan hati-hati membagikan sepotong bagian kecil dari telur Paskah kepada setiap anggota keluarga dan para tamu, sembari mengucapkan selamat berbahagia di hari yang kudus ini. Sebelum mereka memakan telur bagian mereka dalam keheningan, mereka tidak akan duduk untuk menyantap jamuan Paskah mereka.


KELINCI PASKAH

Kelinci Paskah berasal dari tradisi kesuburan masyarakat sebelum masa Kristiani. Kelinci merupakan binatang yang paling subur menurut para leluhur, karenanya kelinci dipergunakan sebagai simbol kehidupan baru yang melimpah di masa musim semi. Kelinci Paskah tidak pernah mempunyai makna religius dalam perayaan Paskah, meskipun dagingnya yang putih, kadang-kadang, dikatakan melambangkan kemurnian dan tanpa cela. Gereja tidak pernah memberikan pemberkatan istimewa bagi kelinci. Namun demikian, kelinci mendapat peran yang menyenangkan dalam perayaan Paskah sebagai tokoh legenda penghasil telur-telur Paskah bagi anak-anak di berbagai negara. Di berbagai daerah di Jerman, dipercaya bahwa kelinci Paskah meletakkan telur-telur merah pada hari Kamis Putih dan telur-telur berbagai macam warna pada malam sebelum Minggu Paskah. Kelinci-kelinci Paskah dalam bentuk kue-kue dan gula-gula mulai populer di Jerman selatan, dan sekarang kue dan gula-gula tersebut amat disukai anak-anak di berbagai macam negara.


BABI

Jangan melupakan si babi yang memberikan dagingnya sebagai hidangan dalam jamuan Paskah tradisional. Babi selalu melambangkan keberuntungan dan kemakmuran di kalangan orang-orang Indo-Eropa. Sisa-sisa pemakaian simbol kuno ini masih tetap hidup di jaman kita sekarang. Celengan anak-anak dalam bentuk babi misalnya, merupakan perwujudan dari tradisi kuno ini.

Merupakan tradisi yang diwariskan turun-temurun dari masa sebelum masa Kristiani, untuk makan daging babi dalam berbagai perayaan. Orang-orang Inggris dan Skandinavia menyantapnya, orang-orang Jerman dan Slavia menyantap daging babi panggang pada Hari Raya Natal. Juga, di berbagai wilayah di Eropa, daging babi panggang masih tetap merupakan jamuan utama tradisional dalam pesta pernikahan dan dalam perayaan-perayaan. Pada masa Paskah, ham asap, juga daging anak domba, menjadi santapan sebagian besar bangsa Eropa sejak masa silam, serta merupakan menu Paskah tradisional di berbagai wilayah.

“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”